Kepuhunan: Antara Percaya atau Tidak, Mitos yang Masih Dihormati di Kalimantan Timur
Pernah ditawari makanan sebelum pergi, lalu menolaknya begitu saja?
Terdengar sederhana, namun di Kalimantan Timur tindakan itu bisa dianggap melanggar pantangan turun temurun yang dikenal dengan nama 'kepuhunan', dan konon dapat membawa petaka dalam perjalanan.
Apa itu 'kepuhunan'?
Kepuhunan adalah suatu kepercayaan masyarakat Kalimantan pada umumnya mengenai pantangan menolak untuk makan ketika sudah telanjur ditawarkan sebelum yang bersangkutan pamit pergi keluar rumah, dimana ketika dilakukan (menolak untuk makan), maka bisa mengundang bahaya atau celaka di perjalanan.
Setidaknya kalau tidak sempat untuk makan, orang itu dapat 'menjapai' makanannya terlebih dahulu.
Menjapai adalah menyentuh makanan tersebut dengan ujung jari tangan telunjuk, setelah itu ujung jari yang sama dengan cepat juga langsung menyentuh ujung lidah. Seolah-olah sudah makan atau merasakan makanan yang telah telanjur disajikan itu.
Ini adalah bagian dari warisan spiritual masyarakat Kalimantan yang secara tidak langsung mengajarkan secara turun-temurun sopan santun dan adab ketika sudah telanjur disiapkan dan ditawarkan makanan oleh tuan rumah atau orang tua.
Mitos atau Fakta?
Kepercayaan ini sangat kuat di kalangan masyarakat adat Dayak, Kutai, dan sebagian etnis Banjar atau Bugis yang merantau ke Pulau Kalimantan, karena hal ini berkaitan erat dengan nilai penghormatan terhadap rezeki, keberkahan, dan adab sebelum meninggalkan rumah, baik rumah sendiri maupun rumah yang kita kunjungi sebagai tamu.
Mengenai 'kepuhunan' secara harfiah yaitu 'menolak makan lalu celaka', saya memilih untuk 'percaya tidak percaya', karena untuk memastikan bahwa itu fakta, saya harus memiliki bukti yang akurat, namun untuk mengatakannya sebagai mitos, ada satu pengalaman hidup yang membuat saya mau tidak mau 'harus percaya' juga.
Pada suatu hari, adik saya sedang berkumpul bersama kawan-kawannya tepat di depan garasi rumah kami. Ketika adik saya masuk ke dalam rumah untuk berpamitan karena dia mau ikut jalan bersama kawan-kawannya ke Melawai, ibu saya baru selesai memasak nasi kuning. Beliau pun langsung menawarkan anak bungsunya itu untuk makan terlebih dahulu.
Sayangnya permintaan itu segera ditolak oleh adik saya itu. Kebetulan tempat yang akan dia tuju itu adalah tempat tongkrongan dan jajanan anak-anak muda di Balikpapan (Melawai), jadi bisa makan di luar rumah saja bersama kawannya. Lagipula tidak keburu jika dia harus makan dulu. Tanpa 'menjapai' pula makanan yang ditawarkan tersebut.
Baru sekitar 10 menit berselang, ibu saya mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai pihak rumah sakit. Katanya adik saya mengalami kecelakaan berdua dengan temannya.
Barusan bertemu dalam keadaan bugar, ibu saya nyaris tidak percaya, bahkan menduga modus penipuan melalui telepon. Sampai akhirnya beliau memutuskan untuk melihat sendiri ke rumah sakit, dan ternyata adik saya benar-benar kecelakaan. Dia dan temannya itu sama-sama mendapatkan beberapa jahitan medis di bagian tubuh mereka masing-masing.
Percaya tak percaya. Mau tidak percaya, tapi malah kejadian.
Bagaimana Sudut Pandang Logisnya?
Sebenarnya secara psikologis sih larangan ini bisa dimaknai sebagai bentuk kontrol diri dan perhatian keluarga.
Apa ada kaitannya dengan 'ketulahan' juga?
Bisa jadi!
Ketulahan itu dikenal secara umum sebagai 'kualat'.
Sudah disiapkan makan oleh orang tua, bukannya makan dulu walau sedikit, kok malah langsung ditinggal pergi?
Mubazir dong makanan di rumah kalau tidak ada yang makan.
Nah, dengan makan dulu atau sekedar menjapai makanan itu, maka orang itu akan pergi dalam kondisi tidak lapar dan lebih waspada.
Bisa jadi juga efek sugesti, yaitu merasa bersalah, lalu menjadi tidak fokusdan akhirnya benar-benar celaka.
Tapi kalau dari sudut pandang saya pribadi, hal yang paling masuk akal adalah dibayang-bayangi oleh makanan yang sempat ditawarkan itu tadi sehingga tidak fokus dalam berkendaraan, kemudian terjadilah musibah itu.
Apakah Ada Sisi Positifnya?
Tentu saja ada!
Kepuhunan mengajarkan kita untuk lebih menghargai makanan, tidak menolak rezeki, serta menghormati orang yang memberi.
Dia juga menjadi simbol keterikatan emosional antar anggota keluarga dan hubungan silaturahmi lainnya.
Bagaimanapun, percaya atau tidak, kepuhunan tetap hidup di tengah masyarakat Kalimantan, khususnya di Kalimantan Timur sebagai warisan tak kasat mata.
Mungkin bukan soal mistis atau tidak, tapi tentang adab, rasa syukur, dan kehati-hatian sebelum melangkah keluar dari rumah.